THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 05 Desember 2008

Taman Nasional Baluran

aduhhhhh kedinginan nih
ni semua da di laut lho............!!!

PANTAI BAMA
PANASSSSSSSSS............!!!!!



GUNUNG SAVANA

BIOTA LAUT TAMAN NASIONAL BALURAN

BINTANG LAUT


JENIS - JENIS HUTAN DI TAMAN NASIONAL BALURAN

Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya kawasan di Pulau Jawa yang memiliki padang savana alamiah. Luasnya ± 10.000 Ha atau sekitar 40% dari luas kawasan.
Kawasan Baluran mempunyai ekosistem yang lengkap yaitu Hutan Mangrove, Hutan Pantai, Hutan Payau/Rawa, Hutan Savana dan Hutan Musim (dataran tinggi dan dataran rendah)

A.HUTAN MANGROVE

Tipe hutan ini terdapat di daerah pantai Utara dan Timur kawasan Taman Nasional seperti di Bilik, Lempuyang, Mesigit, Tanjung Sedano dan Kelor. Pada daerah bakau yang masih baik (Kelor dan Bilik) flora yang umum dijumpai adalah Api-api (Avicenia spp.), Bogem (Sonneratia spp.) dan Bakau (Rhizophora spp.). Pada beberapa tempat dijumpai tegakan murni Tinggi (Ceriops tagal) dan Bakau (Rhizophora apiculata).

Beberapa daerah lain seperti di Utara Pandean, Mesigit, sebelah Barat Bilik terdapat hutan bakau yang telah rusak. Daerah ini menjadi lumpur yang dalam pada musim hujan, tetapi akan berubah menjadi keras dan kering dengan lapisan garam di permukaan pada musim kering. Sedikit sekali pohon yang tumbuh disini dan tidak dijumpai tumbuhan bawah. Beberapa species yang tumbuh antara lain adalah Api-api (Avicenia sp.) dan Truntun (Lumnitzera racemosa).

di Taman Nasional Baluran tahun 1994 / 1995 di daerah sekitar Bama terdapat salah satu pohon bakau yang diduga terbesar di dunia dengan keliling pohon 450 cm.

B.HUTAN PAYAU/RAWA

Hutan Payau di Baluran merupakan daerah ekoton yang berbatasan dengan savana. Penyebaran hutan ini sebagian besar terdapat di Kalikepuh bagian tenggara dan pada luasan yang lebih kecil terdapat di Popongan, Kelor, bagian Timur Bama serta barat laut Gatel. Jenis-jenis pohon yang selalu hijau sepanjang tahun pada hutan ini dijumpai jenis-jenis pohon antara lain Malengan (Excoecaria agallocha), Manting (Syzigium polyanthumm) dan Popohan rengas (Buchacania arborescens)

C.HUTAN SAVANA

Tipe habitat ini merupakan klimaks kebakaran yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Tipe habitat ini dapat dibedakan ke dalam dua sub tipe, yaitu Flat Savana (padang rumput alami datar) dan /undulting Savana (padang rumput alami bergelombang). Flat Savana tumbuh pada tanah aluvial berbatu-batu. Sub tipe savana ini terdapat di bagian Tenggara kawasan, yaitu daerah sekitar Plalangan dan Bekol dengan luasan sekitar 1500 ha. sampai dengan 2000 ha.

Sebagian besar dari populasi banteng, rusa maupun kerbau liar mempergunakan areal ini untuk merumput. Jenis-jenis rumput yang dominan di daerah ini adalah Lamuran putih (Dichantium caricosum), Rumput merakan (Heteropogon concortus) dan Padi-padian (Shorgum nitidus). Beberapa pohon yang menghuni savana in antara lain Pilang (Acacia leucophloea) dan Kesambi (Schleichera oleosa). Khusus padang rumput alami di daerah Bekol seluas 420 ha. saat ini telah ditumbuhi tanaman Acacia nilotica yang semula tanaman ini ditanam untuk penyekat kebakaran, namun pemerintah telah berusaha untuk mencabut tanaman tersebut secara bertahap yaitu seluas 25 ha. per tahun

D.HUTAN MUSIM ( DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH)

Hutan monsoon yang terdapat di Taman Nasional Baluran dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hutan monsoon dataran rendah dan hutan monsoon dataran tinggi. Daerah transisi kedua hutan ini terletak pada ketinggian 250 - 400 meter dari permukaan air laut. Di kawasan Baluran juga terdapat tanaman yang dapat dipakai sebagai bahan obat tradisional,

KADAR CO 2 AIR LAUT

Keasaman laut ini mengancam organisme laut yang berperan dalam membangun terumbu (biota berkapur: karang, kerang, kipas laut, dsb.) - mereka yang selama ini menyumbang oksigen dari hutan lindung laut di pesisir kita.Karang / Coral dan plankton dengan tubuh berkapur mereka menduduki tingkat dasar di rantai makanan laut. Mereka bergantung kepada air laut yang mengandung calcium carbonate, sebagai bahan dasar membangun kerangka tubuh mereka. Sedihnya, ketika keasaman laut berubah, dalam hal ini meningkat, kelarutan kalsium karbonat tersebut menurun, membuat mereka sulit mendapatkan 'semen tiga roda' untuk tumbuh (kalsifikasi).


0 komentar: